Tuesday, June 3, 2025

Sisiphus Dan Do’a Kiyai Marhaban

 Oleh: Lukman Age
Ketua Lembaga Rakyat Marginal (Le-ReM) Aceh

Meski pemerintahan baru RI belum terbentuk, namun tak sulit memastikan batasan yang ‘mampu’ direspon pemerintah hasil SU 1999 tu terhadap tuntutan orang Aceh. Paling banter Jakarta akan memberikan status otonomi khusus untuk menalangi hilangnya harkat, martabat dan rasa kemanusiaan di wilayah yang membesarkan Indonesia ketika bangsa itu masih berstatus bayi. No way referendum, apalagi merdeka.


Lalu apa artinya polling SIRA yang hasilnya lebih 90 % dari 30.000 responden menginginkan referendum ? Atau apa gunanya mahasiswa harus berdarah-darah ketika meneriakkan referendum saat kedatangan Habibie ke Baiturrahman. Juga apa untungnya ulama sampai bersunyi ria di makam Syiah Kuala untuk mencetuskan referendum.

Kita tentunya bukan Sisiphus yang dihukum para dewa mengangkut batu ke atas gunung terjal. Setelah sampai ke puncak, batu itu menggelinding kembali. Kejadian itu terus berulang, dan Sisiphus tetap bertahan. Malah Albert Camus menafsirkan Sisiphus bahagia melakukan pengulangan yang melelahkan itu. Kita tentunya bukan Sisiphus, namun yang kita lakukan tak beda dengan tokoh di negeri dongeng itu. Ketika pertama kali dicetuskan lewat Mubes KARMA Januari lalu, oleh aktivis di buffer aksi itu, referendum hanya diartikan sebatas wacana untuk menekan Jakarta agar lebih mendengar Aceh. Namun setelah referendum ‘berbunyi’ lewat Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Se-Rantau, opsi itu jadi harapan. Euforia rakyat dimana-mana, meneriakkan solusi yang diyakini terbaik untuk Aceh. Seolah saat kita bangun esok pagi referendum sudah menanti, dan lusanya kita sudah merdeka.

Namun kekerasan demi kekerasan, membuat ‘batu’ referendum itu menggelinding kebawah. Isu itu hilang ditengah riuhnya peluru dan amisnya bau darah anak manusia. Tapi sedikit saja kekerasan mereda, kita kembali mengusung ‘batu’ referendum ke puncak gunung. Ulamapun kita panggil untuk menggotongnya. Kepada tokoh nasional sekaliber Gus Dur dan Amien Rais-pun kita mengadu. Tapi keduanya tak bisa berjanji banyak. Nasionalisme mereka beda dengan kita. Soal pisah memisah dari RI cukup Timtim saja pengalamannya.

Namun kita tetap mengusungnya, di Tapak Tuan Aceh Selatan pekan lalu puluhan ribu orang berkonvoi untuk referendum. Hari itu, kota kecil dipinggir laut itu seakan tenggelam oleh teriakan "Hidup Referendum" dan "Hidup Aceh Merdeka". Dan seperti kata Albert Camus kita bahagia melakukannya. "Sejarah manusia mengasyikkan, tapi diujungnya harapan besar apapapun tak akan terpenuhi," kata Camus.

Lalu apakah yang telah kita lakukan hanyalah sebuah utopia, yang ujungnya tak jelas dimana ? Bisa saja. Namun bukan berarti karena referendum itu utopis kita melupakannya. Sebab kata Oscar Wilde ditahun 1895 : "Sebuah peta dunia yang tak mencantumkan utopia tidak layak dipandang selintas pun." Baginya negeri bernama utopia tempat kemanusiaan selalu mendarat. Dan kemajuan, kata Wilde, adalah realisasi dari utopia-utopia.

Mungkin karena itu Kiyai Marhaban Krueng Kalee, sepuhnya ulama Aceh saat berdialog dengan Gus Dur dan Amien Rasi berkata : "Kalau dari manusia referendum tidak kami peroleh, maka kami akan memintanya kepada Allah." Amien ya Allah !.

0 comments:

Post a Comment

Djon Afriandi