Seorang aktivis HAM New York beretnik Aceh hilang di Medan. Dari benua asing, ia getol membela rakyat Aceh.Ia pamit kepada saudaranya, Sabtu pekan silam. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan celana panjang hitam. Sebuah tas ransel menempel di punggungnya. Begitulah kebiasaan Jafar Siddiq Hamzah bila bepergian. "Hanya sebelum berangkat, ia sempat menelepon adik iparnya ke Aceh menanyakan nomor rekening bank," kata seorang keluarganya di kota Medan. Bahkan, menurut adik kandungnya, Syarifuddin Hamzah, pada Sabtu siang itu pun Jafar masih bertelepon. "Jafar menyebutkan ia berada di Jalan A. Yani Medan. Setelah itu tak ada lagi kontak. Padahal, setiap dua jam dia selalu
bertelepon memberi tahu keberadaannya," katanya kepada Gamma.
Sejak itulah, tak ada lagi kabar berita Jafar. Padahal, lelaki berkulit hitam ini adalah Ketua IFA (International Forum for Aceh) yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat, dan baru dua pekan berada di Banda Aceh dan Medan, dua kota tempat aktivis hak asasi manusia (HAM) ini getol memantau perilaku militer di Aceh sejak awal 1990-an lalu.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan pun geger. Maklum, Jafar pernah menjadi aktivis lembaga itu pada 1990-1995. Didampingi LBH Medan, Syarifuddin ditemani adiknya, Cut Zahara Hamzah, segera mengadu ke Polda Sumatera Utara pada Senin malam, 7 Agustus lalu. Teman dekatnya, Alamsyah Hamdani, S.H., yang kini memimpin LSM Lembaga Anti-Ras (Laras) di Medan, dan mantan Direktur LBH Medan, juga melaporkan hilangnya Jafar -penghuni tetap (permanent resident) di New York- ke Konsulat Amerika Serikat di Medan. Jafar yang kelahiran Aceh Utara 35 tahun lalu, sejak 1995, menetap di New York Amerika Serikat. Mulanya ia bekerja di PBB sebagai relawan untuk pengungsi Bosnia dan bantuan kemanusiaan PBB lainnya. Jafar bergaul dengan aktivis LSM di pelbagai belahan dunia. Lelaki berkacamata minus ini berhasil
menyelesaikan program master di sebuah universitas di New York, dan mempersunting seorang gadis Filipina.
Tekadnya untuk membela rakyat Aceh semakin kental, ketika Jafar mendirikan IFA yang berkantor di Woodside New York, AS. Lewat IFA yang didirikan tiga tahun lalu itu, Jafar gencar mengampanyekan kasus pelanggaran HAM di Aceh kepada masyarakat dunia -baik pada masa dan pascadaerah operasi militer (DOM) di Aceh. Untuk itu, Jafar dan IFA melakukan kerja sama dengan Amnesty International dan TAPOL - keduanya bermarkas di London Inggris. Juga dengan Human Right Watch New York.
Jafar juga menerbitkan tabloid bulanan Su Aceh berbahasa Aceh dan Inggris di New York -yang banyak memberitakan tragedi kemanusiaan di Aceh. "Jafar bahkan mengupayakan adanya jaringan internasional untuk membantu penderitaan rakyat Aceh," kata Direktur LBH Medan, Irham Buana Nasution, S.H. Nah, dua minggu lalu, Jafar kembali ke Banda Aceh dan berencana tinggal setahun untuk mendirikan kantor Support Comittee of Human Rights for Aceh (SCHRA). Lalu, Jafar berangkat ke Medan dengan mengendarai mobil Kijang bersama Adam Juli alias Andi Purnama dan seorang putrinya pada 27 Juli lalu. Mereka sempat semalam singgah di rumah keluarganya di Lhokseumawe, dan tiba di Medan serta menetap di rumah keluarganya, Sabtu 29 Juli lalu.
Direktur Eksekutif Forum Peduli HAM, Syaifuddin Bantasyam, telah meminta Polda Sumatera Utara mengklarifikasi hilangnya Jafar. Sebelumnya, kasus Teungku Nashiruddin Daud dan Ismail Syahputra hingga kini belum jelas penyelidikannya. "Jika kasus Jafar ini juga tak jelas, citra kota Medan jadi buruk di dunia internasional," kata Syaifuddin. Memang, belum jelas, apakah Jafar hilang karena aktivitasnya memperjuangkan kasus pelanggaran HAM di Aceh, atau oleh sebab lain.
Seperti diketahui, Teungku Nashiruddin Daud, anggota DPR-RI dari Fraksi PPP, ditemukan terbunuh di pinggiran kota Medan, Januari lalu. Lalu, Ismail Syahputra, juru bicara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) Wilayah Pase, dinyatakan hilang di Medan, pertengahan Mei lalu -persis dua minggu setelah Teungku Don Fahri Majelis Pemerintahan (sayap politik Aceh Merdeka) GAM Malaysia ditemukan tewas tertembak orang tak dikenal di Malaysia.
Kapolda Sumatera Utara, Brigjen Polisi Sutanto, masih meragukan hilangnya Jafar. "Kalau memang indikasi ke arah hilang, kita akan mengusutnya," katanya. "Jangan terlalu cepat menuduh pelaku penculikan. Sekarang sudah tidak zamannya lagi culik-menculik," ujar Kapendam I Bukit Barisan, Letkol Nurdin Sulistyo, kepada Wibowo Sangkala dari Gamma. Nadanya, kok, serupa? -Bersihar Lubis dan Sarluhut Napitupulu

0 comments:
Post a Comment