Showing posts with label victims. Show all posts
Showing posts with label victims. Show all posts

Tuesday, June 3, 2025

Di Mana Engkau, Jafar



GAMMA Nomor: 25-2 - 15-08-2000 

Seorang aktivis HAM New York beretnik Aceh hilang di Medan. Dari benua asing, ia getol membela rakyat Aceh.Ia pamit kepada saudaranya, Sabtu pekan silam. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan celana panjang hitam. Sebuah tas ransel menempel di punggungnya. Begitulah kebiasaan Jafar Siddiq Hamzah bila bepergian. "Hanya sebelum berangkat, ia sempat menelepon adik iparnya ke Aceh menanyakan nomor rekening bank," kata seorang keluarganya di kota Medan. Bahkan, menurut adik kandungnya, Syarifuddin Hamzah, pada Sabtu siang itu pun Jafar masih bertelepon. "Jafar menyebutkan ia berada di Jalan A. Yani Medan. Setelah itu tak ada lagi kontak. Padahal, setiap dua jam dia selalu

bertelepon memberi tahu keberadaannya," katanya kepada Gamma.

Sejak itulah, tak ada lagi kabar berita Jafar. Padahal, lelaki berkulit hitam ini adalah Ketua IFA (International Forum for Aceh) yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat, dan baru dua pekan berada di Banda Aceh dan Medan, dua kota tempat aktivis hak asasi manusia (HAM) ini getol memantau perilaku militer di Aceh sejak awal 1990-an lalu.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan pun geger. Maklum, Jafar pernah menjadi aktivis lembaga itu pada 1990-1995. Didampingi LBH Medan, Syarifuddin ditemani adiknya, Cut Zahara Hamzah, segera mengadu ke Polda Sumatera Utara pada Senin malam, 7 Agustus lalu. Teman dekatnya, Alamsyah Hamdani, S.H., yang kini memimpin LSM Lembaga Anti-Ras (Laras) di Medan, dan mantan Direktur LBH Medan, juga melaporkan hilangnya Jafar -penghuni tetap (permanent resident) di New York- ke Konsulat Amerika Serikat di Medan. Jafar yang kelahiran Aceh Utara 35 tahun lalu, sejak 1995, menetap di New York Amerika Serikat. Mulanya ia bekerja di PBB sebagai relawan untuk pengungsi Bosnia dan bantuan kemanusiaan PBB lainnya. Jafar bergaul dengan aktivis LSM di pelbagai belahan dunia. Lelaki berkacamata minus ini berhasil
menyelesaikan program master di sebuah universitas di New York, dan mempersunting seorang gadis Filipina.

Tekadnya untuk membela rakyat Aceh semakin kental, ketika Jafar mendirikan IFA yang berkantor di Woodside New York, AS. Lewat IFA yang didirikan tiga tahun lalu itu, Jafar gencar mengampanyekan kasus pelanggaran HAM di Aceh kepada masyarakat dunia -baik pada masa dan pascadaerah operasi militer (DOM) di Aceh. Untuk itu, Jafar dan IFA melakukan kerja sama dengan Amnesty International dan TAPOL - keduanya bermarkas di London Inggris. Juga dengan Human Right Watch New York.

Jafar juga menerbitkan tabloid bulanan Su Aceh berbahasa Aceh dan Inggris di New York -yang banyak memberitakan tragedi kemanusiaan di Aceh. "Jafar bahkan mengupayakan adanya jaringan internasional untuk membantu penderitaan rakyat Aceh," kata Direktur LBH Medan, Irham Buana Nasution, S.H. Nah, dua minggu lalu, Jafar kembali ke Banda Aceh dan berencana tinggal setahun untuk mendirikan kantor Support Comittee of Human Rights for Aceh (SCHRA). Lalu, Jafar berangkat ke Medan dengan mengendarai mobil Kijang bersama Adam Juli alias Andi Purnama dan seorang putrinya pada 27 Juli lalu. Mereka sempat semalam singgah di rumah keluarganya di Lhokseumawe, dan tiba di Medan serta menetap di rumah keluarganya, Sabtu 29 Juli lalu.

Direktur Eksekutif Forum Peduli HAM, Syaifuddin Bantasyam, telah meminta Polda Sumatera Utara mengklarifikasi hilangnya Jafar. Sebelumnya, kasus Teungku Nashiruddin Daud dan Ismail Syahputra hingga kini belum jelas penyelidikannya. "Jika kasus Jafar ini juga tak jelas, citra kota Medan jadi buruk di dunia internasional," kata Syaifuddin. Memang, belum jelas, apakah Jafar hilang karena aktivitasnya memperjuangkan kasus pelanggaran HAM di Aceh, atau oleh sebab lain.

Seperti diketahui, Teungku Nashiruddin Daud, anggota DPR-RI dari Fraksi PPP, ditemukan terbunuh di pinggiran kota Medan, Januari lalu. Lalu, Ismail Syahputra, juru bicara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) Wilayah Pase, dinyatakan hilang di Medan, pertengahan Mei lalu -persis dua minggu setelah Teungku Don Fahri Majelis Pemerintahan (sayap politik Aceh Merdeka) GAM Malaysia ditemukan tewas tertembak orang tak dikenal di Malaysia.

Kapolda Sumatera Utara, Brigjen Polisi Sutanto, masih meragukan hilangnya Jafar. "Kalau memang indikasi ke arah hilang, kita akan mengusutnya," katanya. "Jangan terlalu cepat menuduh pelaku penculikan. Sekarang sudah tidak zamannya lagi culik-menculik," ujar Kapendam I Bukit Barisan, Letkol Nurdin Sulistyo, kepada Wibowo Sangkala dari Gamma. Nadanya, kok, serupa? -Bersihar Lubis dan Sarluhut Napitupulu


Mengenali Jafar dan Menebak Penculiknya

 


Jafar Siddiq Hamzah hilang di Medan sejak 5 Agustus siang. Kemungkinan penculiknya hanya dua: negara melalui alatnya atau justru nonstate actor (pelaku di luar negara). Lalu, siapa yang paling mungkin? Mengapa semua pihak mengaku tak terlibat? Sepertinya, ada yang berdusta di antara kita! Mungkin, tak pernah sekalipun terlintas di pikiran Jafar Siddiq Hamzah (35), bakal menjadi korban penculikan --itu pun kalau dia masih hidup (mudah-mudahan masih dan semoga Allah SWT melindunginya). Sebagai pegiat HAM dan demokrasi yang sedang merampungkan S2 Ilmu Politik di Newschool University, New York, kesalahan terbesar Jafar adalah mengira Indonesia di masa reformasi ini sudah identik -- dalam hal kebebasan dan jaminan keamanan-- dengan Amerika. Di sana memang setiap orang berhak pergi ke mana saja dalam batas-batas negaranya sendiri, sebagaimana diatur dalam pasal 13 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM). Dalam ayat 2-nya juga diatur bahwa setiap orang berhak meninggalkan suatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan kembali lagi ke negerinya itu. Sejauh ini, Jafar kelahiran Blang Pulo, Aceh Utara, memang masih merupakan Warga Negara Indonesia. Cuma, ia sudah mendapat status pemukim tetap (permanent resident) di Amerika. Jadi, dalam alam kesadarannya, boleh jadi Jafar mengira bisa aman dan "leluasa" ke luar-masuk ke dua negara ini, tanpa ada yang mengincar dan merampas kemerdekaannya. Ia telanjur mengira, Indonesia sekarang sudah berubah total setelah digasak arus reformasi. Dengan asumsi itu, apalagi di masa jeda kemanusiaan, Jafar berani menempuh jalur darat naik mobil Kijang bersama Andi Purnama plus putri Bung Andi, dari Banda Aceh ke Lhokseumawe. Seterusnya ke Medan. Itu artinya, gerak-gerik dan mobilitasnya sejak dari Banda Aceh hingga Medan (apalagi kehadirannya bersama Carmel Budiardjo dipublikasi luas oleh media massa) sudah terpantau oleh orang atau kelompok yang berniat menculiknya. Si penculik, hanya tinggal menunggu kesempatan terbaik saja ketika Jafar lengah dan sedang seorang diri. Dan nyatanya, setelah berpisah dengan Bung Adam (adik kandung M Syah Asyek, mantan Wagub Aceh, yang langsung kembali ke Kalifornia), Jafar memang bepergian seorang diri di Medan yang terkenal garang.


Tapi, segarang apapun, Medan toh bukan kota yang asing bagi Jafar. Sejak 1983, alumnus PGA di Aceh Utara ini sudah kuliah di sana pada Fakultas Ushuluddin Al Wasliyah, tamat tahun 1988. Di samping itu, sejak 1984 ia juga kuliah di Fakultas Hukum Universitas Amir Hamzah Medan, tamat 1989. Kemudian Jafar bergabung dengan LBH Medan yang kala itu dipimpin Alamsyah Hamdani SH.

Dengan asumsi bahwa Medan memang bekas "daerah jajahannya" dan dia punya banyak teman yang terpencar di sana, Jafar pergi ke sana- kemari sendirian. Sebagai alat kontrol, dia hanya berjanji akan menelepon per dua jam sekali ke rumah keluarganya di Medan. Kontak telepon terakhir dilakukan Jafar pada Sabtu, 5 Agustus 2000, pukul 11.20 WIB dari sebuah tempat yang tidak dia jelaskan. Saat itu ia menelepon Susi dan menanyakan berapa nomor rekening bank adik iparnya itu.

Jejak terakhir Jafar yang bisa dilacak pihak keluarganya adalah ketika seorang teman Jafar memberitahu Susi bahwa abang iparnya itu meninggalkan kantor temannya tersebut pukul 13.00 WIB. Dan, ketika pergi, Jafar tetap sendirian --seperti saat datang.

Andainya dia masih ingat bahwa penyebab utama dia harus hengkang meninggalkan Medan (tepatnya Indonesia) di tahun 1996 adalah karena dia diuber-uber aparat keamanan, niscaya Jafar akan lebih bersikap awas dan tak akan melenggang sendirian ketika berada lagi di Medan. Paut waktu antara tahun 1996 dengan 2000 itu belum terlalu lama. Oleh karenanya, hampir pasti, sekalipun kini era reformasi, masih tetap ada mantan pengubernya dulu yang masih ingat Jafar. Siapa tahu, perintah menangkap Jafar bersifat permanen; tak kenal kadaluarsa. Maka, kendatipun rezim berganti, perintah itu tetap dijalankan di masa reformasi ini.
Di Medan, begitu pula di Aceh Utara, Jafar memang pernah menjadi target operasi militer. Penyebabnya tak lain, karena sebagai pengacara muda merangkap Kepala Divisi Tanah dan Lingkungan Hidup pada LBH Medan, Jafar kelewat nekat tampil sebagai penasihat hukum para pejuang GAM. Salah satu yang dia bela adalah Mukim Usman, warga Buloh Blangara dan Komisaris Golkar yang dituduh terlibat GAM. Di Medan, Jafar juga mengadvokasi kasus pembakaran Iwan Dukun ('dermawan' yang didakwa memberi dukungan dana kepada aktivis GAM) bersama lima Napi lainnya di LP Tanjung Gusta, Medan.

Keterlibatan Jafar bersama Alamsyah Hamdani, Abdul Hakim GN, dan Luhut Pangaribuan dalam membela orang-orang yang dituduh terlibat gerakan separatis di Aceh itulah yang membuat dia diuber-uber aparat. "Malah, ban mobil kami sampai ditembaki aparat sewaktu melintas di depan Point A Mobil Oil, Lhoksukon," kenang Alamsyah yang dikonfirmasi Kontras, Kamis (10/8) lalu.

Tak cuma itu, karena bersungguh-sungguh ingin membela para kliennya yang sedang disidang di PN Lhokseumawe, "Kami, termasuk Bang Abdul Hakim Garuda Nusantara dan Luhut Pangaribuan waktu itu diusir dari tempat kami menginap di dermitory Mobil Oil. Kami akhirnya angkat kaki dari sana," ungkap Alamsyah yang kini memimpin Lembaga Antiras (Laras) Sumut.

Jafar sendiri, ketika datang ke Banda Aceh 15 Januari 2000, kepada Kontras mengaku, sejak 1989 hingga akhir 1995 ia memang banyak menerima ancaman. "Begitu memasuki tahun 1996 saya dan keluarga makin sering mendapat ancaman. Misalnya, ada aparat yang datang ke desa saya untuk menanyakan asal-usul saya. Ancaman itu semakin banyak, terutama menjelang saya berangkat ke AS," cerita Jafar. Dan... "Syukurlah, saya masih selamat hingga hari ini," katanya medio Januari lalu.

Sadar bahwa keselamatannya terancam, apalagi di Jakarta mulai banyak aktivis prodemokrasi yang diculik dan disekap, Jafar akhirnya terpaksa meninggalkan Medan tahun 1996. Dia lari lewat Padang bersama istri barunya, Jacqueline Siapno Aquino, doktor asal Filipina yang merupakan warga AS dan pernah mengajar di University of California - Irvine. Istri pertamanya adalah orang Medan. Beberapa kawan dekat Jafar di Medan, ikut mengatur proses pelarian yang mendebarkan itu.

Sesampai di New York, Jafar bergabung dengan sejumlah warga Aceh yang sudah lama menetap di sana. Ia juga membangun link dengan Sidney Jones, direktur eksekutif Human Right Watch Divisi Asia. Sebetulnya, semasih di Medan pun, Jafar sudah kenal Sidney. Sebab, "wanita pemberani" ini pernah bersama Hendardi dari YLBHI Jakarta melakukan investigasi soal pelanggaran HAM di Aceh antara tahun 1990-1991 --saat "pembantaian" dan penghilangan orang sedang marak-maraknya di Aceh. Dan, ketika melakukan investigasi tahun 1990 di Aceh, Hendardi didampingi Jafar, juga atas sepengetahuan Sidney.

Kedekatannya dengan Sidney dan komunitas AS semakin kental, karena tahun 1991-1992 Jafar mendapat kesempatan belajar di Washington DC setelah International Human Rights memberinya beasiswa guna mengikuti pendidikan HAM dan lingkungan hidup. Sebagai alumnus MIN dan MTsN di Muara Dua, Aceh Utara, kemahiran Jafar berbahasa Inggris cukup menakjubkan. Istrinya, Jacky --begitu wanita berdarah Filipina itu disapa-- pernah memuji kefasihan Jafar berbahasa Inggris, persis setelah Jafar turun panggung mengampanyekan pelanggaran HAM Aceh di depan ribuan khalayak yang memadati "taman penyaluran aspirasi" di seberang markas PBB di New York, 10 Desember 1998-- menandai 50 Tahun DUHAM. "Jafar, bahasa Inggrismu luar biasa fluency," puji Jacky yang kala itu masih berstatus istri Jafar. Setelah itu, Jafar sibuk meladeni wawancara live dengan sejumlah wartawan radio dan TV yang berpangkalan di AS. Meladeni pertanyaan pers tentang Aceh sudah menjadi rutinitas Jafar di manapun dia berada.

Peringatan Setengah Abad dicetuskannya DUHAM itu, dipilih Jafar sebagai momentum penting untuk mengampanyekan secara global terjadinya pelanggaran HAM yang dahsyat di Aceh semasa DOM (1989- 1998). Apalagi saat itu, DOM baru empat bulan dicabut. Jadi, masih hangat-hangatnya untuk dikampanyekan. Maka, berkat lobi Jafar yang saat itu mengetuai Aceh Forum of New York (AFNY), dia berhasil meyakinkan pimpinan New York University untuk menggelar konferensi internasional tentang kasus Aceh di universitas itu. Acaranya dilaksanakan pagi hingga malam pada 12 Desember 1998 di bawah tajuk Years of Living Dangerously: The Struggle for Justice in Indonesia.

Begitupun, inti sesungguhnya dari konferensi itu adalah berupa panel tentang state violence and Islamic resistance in Aceh. Untuk memperkuat materi konferensi itu, Jafar mengundang sejumlah pegiat HAM dari Aceh dan Medan, salah satunya Sayed Mudhahar Ahmad (almarhum). Dalam kesempatan itu dibahas juga upaya pencegahan pelanggaran HAM di Indonesia. Namun, sesi ini kurang bergairah, antara lain, karena Prof Baharuddin Lopa (saat itu Sekjen Komnas HAM) berhalangan hadir tanpa kabar.

Dalam kata sambutannya, Jafar secara memikat dan faktual membeberkan "bunga rampai" pelanggaran HAM di Aceh. Ia sepertinya berhasil menumbuhkan empati hadirin untuk bersimpati pada nestapa Aceh. Audiens yang datang dari berbagai ras itu pun semakin yakin, karena acara yang diinisiatifi Jafar dkk itu dibarengi pula dengan pameran foto-foto pelanggaran HAM yang ia peroleh dari berbagai sumber. Jadi, antara apa yang diucapkannya dengan fakta, saling mendukung.

Singkat kisah, konferensi yang dimotori Jafar itu, pada tahap awal, berhasil menyuburkan kesadaran orang luar tentang betapa tak simpelnya persoalan pelanggaran HAM di Aceh. Jafar memaparkan ulasannya lengkap dengan foto, misalnya, ada pria Aceh yang dipenggal lehernya dan ditenteng aparat di depan khalayak. Juga ada imam di Aceh Timur yang ditembak dengan tangan terikat. Dia juga ungkapkan nasib tragis yang menimpa Sumiati Hamzah, wanita cacat yang diperkosa aparat sampai melahirkan anak. Ada lagi kisah Nyak Maneh, juga di Pidie, yang kebutaannya justru dimanfaatkan aparat untuk memperkosanya, sehingga pelakunya tak bisa dikenali.

Dari simpati yang mengalir itu, muncul ide agar nasib HAM Aceh tak cukup diperjuangkan oleh forum yang hanya bergerak untuk lingkup New York saja. Di akhir konferensi itu direkomendasikan perlunya dibentuk forum yang lebih besar lingkupnya. Maka, lahirlah apa yang dikenal sebagai International Forum for Aceh (IFA). Jafar yang tadinya memimpin Aceh Forum of New York dipercaya menjadi ketuanya. Sedangkan Soraya IT, dosen IAIN Ar-Raniry yang sedang mengambil program doktor di Temple University, AS, sebagai wakil ketua.

Mengupayakan terbentuknya aliansi internasional untuk kasus Aceh, terutama bidang advokasinya, merupakan target utama kelahiran forum itu. Detailnya, lembaga nirlaba yang merupakan gerakan moral ini, juga bertujuan untuk:

1) menghimpun dan menggerakkan potensi solidaritas global guna membela dan menegakhormati HAM, khususnya di Aceh, 2) merintis berbagai usaha menuju pemulihan kondisi dari ekses pelangggaran HAM di Aceh, serta 3) mengupayakan pemberdayaan dan perbaikan kualitas hidup janda dan anak-anak korban DOM. 

Kendati forum ini berkantor pusat di Amerika, tapi memiliki cabang- cabang utama dan minimal memiliki contact person di sejumlah tempat, di mana pun warga Aceh bermukim. IFA pun punya "kaki tangan" terpercaya di Aceh yang rutin memasok info tentang Aceh ke Negara Paman Sam itu. Apalagi, jasa internet makin mendekatkan "jarak psikologis" antara Aceh-New York, kota di mana PBB juga IFA, bermarkas.
Lembaga yang dipimpin Jafar ini, sesuai rekomendasi konferensi, gigih mengupayakan terbentuknya truth commission (komisi kebenaran dan keadilan) atas kasus Aceh sepanjang 1989 hingga kini, meniru model penyelesaian konflik di Equador dan El Salvador. Lewat upaya ini akan ditelisik mana tindak kekerasan oleh negara yang dapat dihukum, mana pula yang cukup dimaafkan saja dengan mengganti rugi (kompensasi) kepada korban. Dan yang terkesan sangat berani, IFA mengupayakan penuntutan terhadap pejabat Indonesia, baik sipil maupun militer, yang terlibat pelanggaran HAM di Aceh, sewaktu mereka berkunjung ke AS. Ini dimungkinkan, sebagaimana menimpa Mayjen Sintong Panjaitan dan Johny Lumintang, karena sistem hukum Amerika mengatur perihal Alien Tort Claim Act 1789. Akta ini mengizinkan setiap orang, penduduk AS atau bukan, untuk menggugat kejahatan di luar Amerika bila perbuatannya itu melanggar hukum Amerika dan hukum bangsa-bangsa.

Di luar itu, IFA juga bertekad menuntut pihak-pihak lain (nonstate actor) yang diduga terlibat dalam pelanggaran HAM di Aceh. Misalnya, kalau ada perusahaan seperti Mobil Oil dan PT Arun yang dulu sempat disebut-sebut menyediakan fasilitas bagi mulusnya praktik-praktik pelanggaran HAM di Aceh Utara.
Dengan latar belakang seperti itu --banyak pihak yang menjadi sasaran 'tembak' IFA-- maka hampir mustahil kalau Jafar tak punya musuh terselubung. Ia mestinya menyadari itu dan karenanya kalau bepergian ke mana-mana, terutama di Medan, Jafar perlu pendamping kalau bukan pengawal, mengingat jabatannya kini tidak kecil: Chairman International Forum for Aceh yang punya jaringan ke seantero Bumi.

Tapi, kalau memang mau disesali, itulah masalahnya: Jafar mengira Medan yang sekarang sudah berbeda dengan Medan yang membuat dia harus ngacir ke luar negeri tempo hari. Padahal, Medan ya tetap Medan. "Ini Medan, Bung!" peringatan orang-orang di sana kepada orang luar, biasanya setelah berucap, "Horas, bah!" Boleh jadi, sebelum disergap Jafar disapa dengan ucapan itu, lalu di tempat penyekapan kepadanya diingatkan bahwa "Ini Medan, Medan!"
Siapa penculik?

Menurut perkiraan delapan LSM di Aceh plus Komnas HAM Perwakilan Aceh, hilangnya Jafar berkait erat dengan peranannya sebagai aktivis HAM yang berjuang untuk menggalang bantuan internasional guna menghentikan pelanggaran HAM di Aceh, serta upaya-upaya peradilan terhadap berbagai kasus HAM di daerah ini.

Sebagai Ornop yang berpegang teguh pada prinsip independensi dan asas praduga tak bersalah, para pegiat Ornop di Banda Aceh itu tak menuduh siapa-siapa terhadap kemungkinan pelaku penghilangan/penculikan Jafar, karena hal itu harus dibuktikan melalui proses hukum terlebih dulu.
Begitupun, ada aktivis LSM, seperti Ari Maulana yang curiga Jafar justru diculik oleh negara melalui alatnya. Dan, di Medan, tempat Kodam Bukit Barisan bermarkas, peluang untuk itu sangat memungkinkan, mengingat kelengkapan organik kemiliteran tersedia lengkap di sana. Tak terkecuali para profesional yang punya kualifikasi keahlian tertentu untuk melakukan operasi penculikan dan penyekapan. Asumsi ini diperkuat pula dengan pengalaman terdahulu bahwa oknum-oknum yang menguber Jafar juga berasal dari wilayah komando ini.

Kalau mau diurut lebih jauh, kasus penculikan aktivis prodemokrasi seperti Pius Lustrilanang, Desmond J Mahesa, dan Raharjo Waluyo Jati, akhirnya terbukti dilakukan institusi militer. Selama sebulan lebih mereka ditahan, disetrum, diteror, dan disuruh tidur di atas balok es. Tapi, tak lama setelah dibebaskan, ketiganya secara berturut-turut memberi kesaksian di depan umum, sekalipun sudah diperingatkan dan diancam bunuh kalau berani membocorkan rahasia penyekapan itu.
Jadi, dengan latar belakang yang demikian, apa boleh buat, institusi militer termasuk pihak yang ikut dicurigai menculik Jafar. Tapi, tolong jangan menuduh. Junjung asas praduga tak bersalah. Apalagi, Pangdam I/BB Mayjen I Gede Purnama secara tegas membantah aparat militer terlibat dalam aksi penculikan atau penghilangan aktivis HAM, Jafar Siddiq Hamzah. "Saya justru baru tahu masalah ini setelah membaca koran," katanya.

Menurutnya, aparat keamanan saat ini tidak melakukan operasi intelijen atau sejenisnya, apalagi melakukan penghilangan terhadap jiwa orang lain. "Saya katakan Kodam tidak melakukan oprerasi intelijen. Jadi, aparat Kodam tidak terlibat dalam masalah itu," ulangnya saat melakukan kunjungan kerja dua hari, di Banda Aceh dan Sabang, Selasa lalu.

Kalau aparat dan institusi militer tidak terlibat menculik, lantas siapa? Polisi atau Brimob di wilayah Sumutkah? Tapi, Kapolda Sumut Brigjen Polisi Sutanto mengatakan, pihaknya tidak terlibat. Sebaliknya, kepada pengurus LBH Medan dan adik Jafar yang datang ke kediamannya, Kapolda menyatakan siap membantu dan menyelidiki hilangnya Jafar. "Coba saja cek dulu keberadaannya. Kalau memang indikasi ke arah itu, kita akan bantu," tegas Sutanto, Senin di Lapangan Benteng Medan.

Ornop-ornop di Aceh memang tak melakukan judgement terhadap kemungkinan siapa penculik Jafar, Pemred Su Acheh yang juga mantan Direktur Eksekutif Yayasan Inong Balee. Tapi, mereka mengingatkan bahwa negaralah yang berkewajiban melindungi hak-hak asasi warganya, termasuk hak untuk hidup dan perlindungan keamanan. Karena rasio itulah, negara memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada para polisi dan tentara untuk memegang senjata, menangkap, dan membawa pelaku kejahatan ke pengadilan. Jadi, tidak boleh ada lembaga-lembaga ekstrayudisial, seperti halnya operasi penculikan aktivis HAM seperti Jafar Siddiq, karena kalaupun Jafar dinilai bersalah atas "sepak terjangnya" selama ini, pengadilanlah yang membuktikan, bukan para penculik.

Karenanya wajar kalau pegiat LSM di Aceh dan Medan, begitu pula keluarganya sangat berharap agar pemerintah bertanggung jawab memberikan klarifikasi serta penanganan yang proporsional terhadap kasus hilangnya Jafar sesuai tanggung jawab negara melalui aparatnya. Kepada penculik dianjurkan segera membebaskan Jafar, mengingat penculikan akvitis samasekali tak akan menyelesaikan masalah. Malah, memicu masalah baru. Lihatlah buktinya, Kedubes AS bereaksi keras atas hilangnya Jafar. Dan ini makin memperburuk citra Medan juga citra Indonesia di mata internasional, karena "human rights defender" sekaliber Jafar justru diculik ketika akan kembali ke AS.

Nonstate actor
Tapi, masalahnya, siapa penculik Jafar yang kerap mengeritik kebijakan Pemerintah RI menyangkut penyelesaian masalah Aceh itu? Kalau dari jajaran pihak keamanan (Kodam I/BB dan Poldasu) mengaku tak terlibat, lantas siapa? Kemungkinan berikutnya adalah nonstate actor, alias pelaku selain negara. Kalau diurut, pelaku dalam genus ini boleh jadi perusahaan yang disebut-sebut Jafar akan digugatnya karena ikut terlibat pelanggaran HAM di Aceh.

Jafar memang pernah mengungkit-ungkit keterlibatan MOI, termasuk dalam konferensi di New York University tempo hari, juga kepada pers asing, sebagai pelanggar HAM. Itulah yang kemudian mengilhami Business Week menurunkan hasil investigasi pada edisi akhir Desember 1998 tentang apa yang tak diketahui Mobil mengenai pelanggaran HAM di Aceh.

Jafar terobsesi dengan gugatan warga Aljazair yang mempersalahkan Exxon, perusahaan minyak AS, karena melakukan pelanggaran HAM di negeri minyak itu. Jafar melihat, hal yang relatif sama juga dilakukan MOI di Aceh. Karenanya, lewat IFA, Jafar ingin menggugat MOI. Obsesinya makin menggebu ketika tahu MOI dan Exxon kemudian merger dan meneruskan operasi di Aceh. Dengan berpedoman pada track record kedua perusahaan itu, Jafar melihat merger itu sebagai dua raksasa coorporate yang akan mengancam HAM di Aceh.

Tapi, sebagaimana dibantah pimpinan Mobil Inc, mereka tak terlibat sebagaimana dituduhkan Jafar dan tudingan sejumlah LSM di Aceh. Jadi, kalau memang merasa tak terlibat, lalu apa pentingnya bagi Exxon-Mobil terlibat menculik Jafar. Artinya, kemungkinan perusahaan multinasional ini terlibat, sangat kecil.
Lalu, siapa lagi? DPRD Aceh termasuk lembaga yang boleh dicurigai, mengingat ketika berdiskusi di D'Rodya Cafe, Banda Aceh, 21 Juli 2000, Jafar pernah berkata begini: Lembaga-lembaga perwakilan rakyat (parlemen) juga dapat digugat secara hukum. Masalahnya, sudah lebih 10 tahum DOM diterapkan di Aceh, di mana ditempatkan 40.000 orang pasukan militer, tetapi parlemen tidak pernah mempersoalkannya kepada eksekutif.

Tapi, sudah bisa ditebak, DPRD Aceh juga bakal membantah kalau nama lembaga itu diseret-seret terlibat dalam kasus penculikan Jafar. Lantas siapa? Boleh jadi pelakunya adalah para preman di Medan, mengingat Jafar diperkirakan preman punya banyak uang. Buktinya, dia bisa bolak-balik Amerika-Aceh. Dalam setahun ini saja sudah dua kali dia ke Aceh.

Kalau preman yang menculiknya, itu pasti karena motif ekonomi. Artinya, setelah uang, atau bahkan paspor Jafar dikuras, dia akan dilepas. Karena, orang seceking Jafar tak berguna bagi mereka. Tapi, tampaknya, penculikan Jafar lebih beraroma politik, ya itu tadi, karena banyak pihak yang risih kalau Jafar terus berkiprah. Bisa saja, pihak yang risih itu menyewa preman atau tukang pukul untuk memberangus Jafar. Maka, Jafar pun hilang dari peredaran, sebagaimana yang dialami Jurubicara AGAM, Tgk Ismail Syahputra yang juga hilang di Medan, tepatnya di Belawan, dua bulan lalu.

GAM, boleh juga dimasukkan sebagai salah satu kemungkinan pelaku. Tapi, mengingat sepak terjang Jafar selama ini di luar negeri justru untuk memperjuangkan para korban DOM, yang sebagiannya adalah para keluarga aktivis GAM, rasanya itu tak mungkin. Kecuali GAM mendapat laporan keliru tentang apa yang diperbuat Jafar untuk Aceh di luar negeri. Secara bercanda Jafar pernah bilang, kelak dia akan mengubah status kewarganegaraannya dari WNI menjadi WNA, tapi bukan Warna Negara Amerika, melainkan Warga Negara Aceh. Ini menunjukkan kedekatan nuraninya pada perjuangan meningkatkan martabat Aceh.
Tgk Darwis Djeunieb, panglima Operasi GAM Wilayah Batee Iliek menampik GAM berada di balik penculikan Jafar. Sebaliknya, ia menduga hal itu dilakukan oleh kelompok yang sama, yang juga pernah menculik Tgk Nashruddin (anggota DPR RI utusan Aceh) dan Ismail Syahputra (tokoh AGAM) beberapa waktu lalu. Hasil investigasi AGAM mengungkapkan, BIA ada di belakang kelompok tersebut! Sudah bisa ditebak, BIA pun tak akan mengaku seperti dituduhkan pihak GAM, mengingat penculikan itu akan menjatuhkan reputasi BIA sebagai institusi TNI.

Bukan hal yang aneh memang kalau semua pihak mengaku tak terlibat menculik atau menyekap Jafar. Mana ada penculik yang mengaku, kecuali kalau untuk meminta tebusan. Tapi, penculikan Jafar sepertinya bukan bermotif ekonomi. Dia bukan orang kaya. Selain mendapat beasiswa untuk kuliah, Jafar menyambi narik taksi di New York untuk menambah penghasilan. Jadi, motif utama penculikannya lebih karena alasan politik. Cuma, satu hal yang pasti: ada yang dusta di antara kita.

Jafar sendiri, 21 Juli lalu pernah berkata begini: Kalau didalihkan ada pihak ketiga yang melakukan kekacauan atau penculikan, itu adalah cara politik tradisional Indonesia yang suka menciptakan kambing hitam. Sehingga, tindakan-tindakan represif dan syok terapi kepada rakyat bisa terus berlanjut dan Pemerintah Indonesia tetap ke luar (dari masa jeda kemanusiaan ini) dengan catatan yang bersih.
Kalaulah penculik Jafar adalah salah satu organ/aparat negara, maka catatan itu tak lagi bersih. Maka, (catatan ini) kita cukupkan sampai di sini. (Kontras:  No. 98 Tahun II  16 Agustus -  23 Agustus 2000)

Monday, June 2, 2025

PEMBANTAIAN DI GEDUNG KNPI ACEH UTARA SABTU 9 JANUARI 1999

 


  • Pola kejadian: Penangkapan dan pembantaia tawanan diluar batas kemanusiaan
  • Hari / Tanggal : Sabtu, 9 Januari 1999
  • Pukul: Sekitar pukul 09.00 WIB
  • Tempat: Gedung KNPI di Jalan Iskandar Muda, dekat Makorem 011/Lilawangsa, Banda Sakti, Aceh Utara
  • Pelaku: Tim Satgas Wibawa ’99 yang dipimpin Letkol Pol Drs Iskandar Hasan
  • Saksi mata: Warga Desa Meunasah Blang Kandang, Muara Dua Aceh Utara
  • Kronologis:

Pagi sekitar pukul 04.30 WIB, Tim gabungan satuan Wibawa ’99 yang dipimpin Letkol Pol Drs Iskandar Hasan melakukan penyergapan terhadap kelompok Ahmad Kandang di Desa Meunasah Blang Kandang, Muara Dua, Aceh Utara. Ditengah-tengah suasana tersebut, sekitar pukul 08.45 WIB sekitar 250 massa dari sekitar Kandang melakukan konvoi untuk memasuki kota Lhokseumawe. Namun gerakan tersebut dibendung oleh anggota ‘Satgas Wibawa ‘99’ di persimpangan Kuta Blang. Dalam rangkaian peristiwa itu, massa juga memblokir jalan pintas Sumatra dari Desa Meunasah Blang hingga Blang Crum. Kandang dengan drum dan dahan pohon. Selain itu mereka juga membakar satu unit sepeda motor Vespa PX 100 BL 5621 KC yang dikendarai Iwan Sukardi (41), karyawan CV Jeuman, Geudong, kecamatan Samudra. Insiden itu berawal dari penghadangan ketika penduduk Batuphat itu melintas di kawasan Meunasah Mee (Simpang Poska) untuk menuju tempat kerjanya di Geudong. Selain sepeda motornya dibakar, Iwan juga mengalami luka-luka dibagian wajah. Ia berhasil diselamatkan oleh aparat yang kemudian membawanya ke RS Kesrem. Dalam suasana panik itu, seorang warga sipil dari rombongan massa yang bernama Zulkifli Mahmud (35), warga Meunasah Blang kandang tertembak. Selain yang tertembak, aparat juga menangkap 40 orang lainnya dari rombongan konvoi tersebut. 38 warga sipil diantaranya lalu diamankan ke Gedung KNPI Aceh Utara yang bersebelahan dengan Makorem 011/LW, untuk pemeriksaan, sedangkan 2 tawanan lainnya dibawa ke RSU Lhokseumawe karena menderita luka-luka, masing-masing Zulkifli dan Mahmud keduanya adalah warga Desa Meunasah Blang Kandang Aceh Utara. Korban mengalami luka tembak pada saat bentrok dengan aparat kemanan di persimpangan Kuta Blang.

Sekitar pukul 10.30 WIB, tawanan mulai diperiksa tim penyidik dari Polres Aceh Utara. Pada saat itu sejumlah anggota ABRI dari berbagai kesatuan melakukan pemukulan terhadap tawanan. Namun, tindakan itu berhasil diatasi Provost Korem 011/Lilawangsa yang berjumlah 7 orang. Pemeriksaan berjalan lancar. Dan dari pemeriksaan tersebut 10 orang tawanan memenuhi persyaratan hukum untuk diproses lebih lanjut berdasarkan jalur hukum. Mereka selanjutnya dipisahkan dan dibawa ke Mapolres Aceh Utara oleh pasukan Brimob.

Sekitar pukul 18.30 WIB, petugas provost membagikan jatah makanan kepada seluruh tawanan. Nammun tak lama kemudian sekitar 50 anggota ABRI dari berbagai kesatuan melakukan penyerangan secara membabi buta ke Gedung KNPI dan melakukan pemukulan serta penganiayaan terhadap tawanan. Usaha ini dihalangi oleh anggota Provost, namun tidak berhasil. Aksi ini berhasil diatasi oleh anggota piket Korem sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu, sejumlah petugas Denpom 1/1 Lhokseumawe memasuki gedung KNPI Aceh Utara.

Selanjutnya sekitar pukul 21.00 WIB, seorang dokter dan tiga perawat Kesrem Lhokseumawe tiba di gedung KNPI Lhokseumawe untuk memberikan pertolongan pertama kepada tawanan yang menjadi korban. Para tawanan selanjutnya dievakusi ke RSU Lhokseumawe dan mendapat pertolongan medis. Dan sekitar pukul 23.00 WIB, dua orang korban penganiayaan, Saifuddin Ibrahim dan Murthala dilaporkan meningga dunia. Keesokan harinya Minggu (10/1/99) sekitar pukul 03.00 WIB, Danren Kol Inf Drs H Johny Wahab mengadakan musyawarah dengan Muspida di Makorem dan tak lama kemudian sekitar pukul 10.15 WIB, tawanan lainnya, Hamzah Muhammad dan Herman Husen juga meninggal dunia. Dan Aiyub (30), warga Pulo Iboih, Kuta Makmur yang meninggal Senin (18/1/99).

  • Korban tewas :
  1. Saifuddin Ibrahim (200 warga Desa Meunasah Blang Kandang Aceh Utara
  2. Murthala M Daud (18) warga Desa Beureughang, Kuta Makmur
  3. Hamzah Muhammad (33) warga Desa Meunasah Blang Knadang
  4. Herman Husen (27) warga Desa meunasah Blang Kandang
  5. Aiyub (30), warga Pulo Iboih, Kuta Makmur.
  • Korban luka :

No

NAMA

UMUR

ALAMAT

 1

Umar Said

35

Keude Krueng, Kuta Makmur

 2

Ishak Abdullah

19

Keude Krueng, Kuta Makmur

 3

Jamaluddin Usman

40

Ceumeucut, Kuta Makmur

 4

Abd Rahman

38

Ceumeucut, Kuta Makmur

 5

Hasanuddin Usman

32

Ceumeucut, Kuta Makmur

 6

Zulkifli Ibrahim

21

Ceumeucut, Kuta Makmur

 7

Ali Basyah

20

Ceumeucut, Kuta Makmur

 8

Sulaiman Kasim

30

Ceumeucut, Kuta Makmur

 9

M Yunus Yacob

20

Dayah Meunasah, Kuta Makmur

 10

Mustafa Kasim

18

Lamkuta, Kuta Makmur

 11

Yusuf Daud

20

Lamkuta, Kuta Makmur

 12

Abdullah Yusuf

26

Lamkuta, Kuta Makmur

 13

Yusuf Muhammad

19

Meunasah Blang Kandang

 14

A Rahman A Bahar

45

Kupula Alue Papeun Nisam

 15

Muslim Muddin Sabi

31

Alu Dua Nisam

 16

M Saleh Hasan

25

Blang Poroh, Nisam

 17

Sapri Munir

22

Blang Jara, Nisam

 18

Sulaiman Zakaria

34

Majreun, Bayu

 19

Adnan Idrus

50

Cot Girek Kandang, Kuta Makmur

 20

Mahmud

35

Meunasah Blang Kandang

 21

Muslim salung

22

Lamkuta, Kuta Makmur

  • Korban luka ringan :

No

NAMA

UMUR

ALAMAT

1.

Sadli M Nur

22

Lambuangan, Muara Dua

2.

Alamsyah Syahkubat

38

Lhok Mon Puteh, Muara dua

3.

M Yunus

20

Desa Dayah, Kuta Makmur

4.

Mustafa Arifin

18

Desa Guha Ulee, Kuta Makmur

5.

M Saleh A Rahman

30

Ceumuecut, Kuta Makmur

6.

Zainuddin

22

Cot Seutui Beureughang, Kuta Makmur

7.

Badliansyah

33

Meunasah Blang Kandang

8.

M Abbas

21

Meunasah Blang Kandang

9.

Ilyas Abdullah

30

Meunasah Blang Kandang

10.

Ayub

26

Meunasah Blang Kandang

11.

M Hasan Ibrahim

23

Meunasah Blang Kandang

12.

Zulkifli Rizal

35

Meunasah Blang Kandang

13.

M Gade Yusuf

31

Meunasah Blang Kandang

14.

Zulkifli

27

Meunasah Blang Kandang

15.

Ilyas bansu

44

Lhok Jempet Kandang, Muara Dua

16.

Usman Ibrahim

30

Cot Matahe, Bayu

17.

Habibah binti Ahmad

42

Cot Girek Kandang, Mura Dua

18.

Mulyadi Z. Abidin

15

Mns Baro, Kuta Krueng

19.

Irwan Sukadi, korban dianiaya massa dan sepeda motornya dibakar.

22

Nusa Tenggara Barat (NTB)


TRAGEDI BEUTONG ATEUEH, ACEH BARAT 23 JULI 1999 (Teungku Bantaqiah)

 


  • Pola Kejadian: Pembantaian warga sipil dengan tuduhan terlibat GAM, dan menyimpan senjata dan ganja.
  • Hari/tanggal: Jum’at (23/7) siang, atau sekitar pukul 12.00 wib.
  • Tempat: Balai penganjian Tgk Bantaqiah di Desa Blang Meurandeh, Kec. Beutong Ateuh, Kab. A. Barat.
  • Pelaku: Lebih dari 100 personil TNI-AD yang berada dibawah kendali operasi (BKO) Korem 011/Lilawangsa, terdiri dari pasukan Yonif 131 dan 133 dengan didukung satu pleton pasukan dari Batalyon 328 Kostrad, dibawah pimpinan kasi intel Korem 011/Lilawangsa, Letkol Inf Sudjono dengan muka dicat warna hitam dan memakai pakaian loreng.
  • Saksi Mata: Warga Desa Blang Puuk dan warga Desa Blang Meurandeh, Kec. Beutong Ateuh, Kab. A. Barat.
  • Kronologis : Setibanya dari Aceh Tengah, sekitar pukul 04.00 wib, tiba di kawasan Desa Beutong Ateuh, dan segera memerintahkan Kades Blang Meurandeh untuk mengumpulkan warganya di rumah Tgk Bantaqiah yang terletak dipinggir sungai Beutong di Desa Blang Meurandeh, dan didekat rumah terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai pesantren karena pasukan militer tersebut akan melakukan pemeriksaan KTP. Warga yang terdiri dari wanita dan pria itu berkumpul di halamam rumah Tgk Bantaqiah. Mereka seluruhnya ditempatkan di lantai II rumah millik mantan Napol tersebut yang berlokasi di Desa Blang Meurandeh.

Sekitar pukul 11.00 wib, pasukan tersebut memerintahkan agar semua laki-laki yang ada di rumah tersebut untuk keluar dengan tangan diatas kepala. Pasukan tersebut juga mengobrak-abrik rumah-rumah warga desa yang ditinggalkan dalam keadaan kosong, dua unit rumah dibakar oleh pasukan tersebut yaitu milik Mak Akop di desa Blang Meurandeh dan rumah milik Hasan Gadoh di desa Blang Puuk.

Tak lama kemudian para lelaki yang berada di lantai II diperintah turun dan berbaris di depan rumah Tgk Bantaqiah. Saat itulah, diperkirakan 32 orang tersebut "disiram" tembakan. Sebelum terjadinya tembakan, pasukan terlebih dahulu menghabisi Tgk Bantaqiah dengan menggunakan GLM, setelah sebelumnya ditembak dengan dua kali tembakan namun tidak berhasil merobohkan Tgk Bantaqiah. Penembakan pertama terjadi di Desa Blang Meurandeh dengan jumlah korban yang tewas sekitar 8 orang. Mereka ditembak ketika sedang mencari udang dan ikan di Krueng Beutong Ateueh. Sedangkan dalam aksi kedua di halaman rumah Tgk Bantaqiah sejumlah warga meninggal sementara 5 orang lainnya luka, mereka selanjutnya dibawa aparat dan tidak diketahui lagi nasibnya. Sebagian ditemukan didalam jurang KM 8 dan KM 7. Pasukan militer masuk dari Aceh Tengah ke kawasan Beutong ateueh sekitar pukul 09.00 wib. Sebelum melakukan penembakan di Desa Blang Meurandeh, pasukan terlebih dahulu melakukan penggeledahan di desa lain di pemukiman Beutong Ateueh, yakni Blang Puuek, Kuta Teungoh, dan Babah Suak. Namun, dari ketiga desa tersebut belum diperoleh konfirmasi tentang adanya korban.

  • DATA KORBAN TEWAS

No

Nama

Umur

Asal

Lokasi dimakamkan

1

Tgk Bantaqiah

54

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

2

Usman Bantaqiah

25

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

3

Zubir

28

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

4

M. Harun Jamaluddin

18

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

5

Muhammad Din

40

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

6

Tarmizi Daud

30

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

7

Mamin M.

28

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

8

M. Amin Baron

25

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

9

M. Husen

32

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

10

Jamalul Ade

27

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

11

Syamsuar

27

Desa Blang Beurandeh

Komplek Pesantren

12

Tgk Yusuf

32

Desa Pusong Langsa

Komplek Pesantren

13

Saiful

22

Desa Pusong Langsa

Komplek Pesantren

14

Tgk Munir

35

Desa Pusong Langsa

Komplek Pesantren

15

Mak Lai

32

Desa Pusong Langsa

Komplek Pesantren

16

Latana

20

Desa Pusong Langsa

Komplek Pesantren

17

Tgk Kupendi

30

Desa Pusong Langsa

Komplek Pesantren

18

Tgk Daud

30

Desa Keude Cebrek Idi

Komplek Pesantren

19

Sulaiman

24

Desa Keude Cebrek Idi

Komplek Pesantren

20

Ridwan

25

Desa Keude Cebrek Idi

Komplek Pesantren

21

Iqbal

26

Desa Keude Cebrek Idi

Komplek Pesantren

22

Junaidi

23

Desa Keude Cebrek Idi

Komplek Pesantren

23

Samsul bahri

28

Desa Matang Sijuk

Komplek Pesantren

24

Sayuti

29

Desa Kandang Aceh Utara

Komplek Pesantren

25

Azis

30

Desa Kutablang Aceh Utara

Komplek Pesantren

26

Amir

32

Desa Kutablang Aceh Utara

Komplek Pesantren

27

Majid

26

Desa Geurugok

Komplek Pesantren

28

Tgk Zainal Abidin

35

Idi

Komplek Pesantren

29

Siabang

29

Desa Buloh Aceh Utara

Komplek Pesantren

30

Saifullah

26

Desa Buloh Aceh Utara

Komplek Pesantren

31

Razali

24

Mns Baroh Pidie

Komplek Pesantren

32

Tgk Zulkarnaen

42

Kila Pidie

Km 7

33

Nasrul

27

Trienggadeng Pidie

Km 7

34

Iwan

22

Matang Glp Dua Aceh Utara

Km 7

35

Mahdi Ubit

30

Desa Kutablang Aceh Utara

Km 7

36

Junaidi

26

Desa Ranubdong Aceh Barat

Km 7

37

Tgk Sayuti

30

Lamno Aceh Barat

Km 7

38

Tulisman

28

Desa Ranubdong Aceh Barat

Km 7

39

Aidit

26

Aceh Selatan

Km 7

40

Bukhari

35

Idi

Km 7

41

Tgk Salmi

24

Aceh Selatan

Km 7

42

Nurdin

50

Julok Aceh Timur

Km 7

43

Tgk Manaf

35

Lhoksukon Aceh Utara

Km 7

44

Tgk Mursidin

30

Babahrot

Km 7

45

Usman

27

Matang Glp II Aceh Utara

Km 7

46

Tgk Zukri

24

Mns Baro Kr. Mane Aceh Utara

Km 7

47

Bustami

25

Julok Aceh Timur

Km 7

48

Tgk Taman

35

Krueng Mane Aceh Utara

Km 7

49

Tgk Jamin

45

Krueng Mane Aceh Utara

Km 7

50

Dedi Mukhtar

27

Geurugok

Km 7

51

Tgk Suhaimi

28

Desa Blang Meurandeh

Km 7

52

Tgk Muhammad Din

40

Desa Blang Meurandeh

Hilang

53

Abdul Wahed Bantaqiah

20

Desa Blang Meurandeh

Hilang

54

Abdul Wahed bantaqiah

30

Desa Blang Meurandeh

Hilang

55

Saidi

26

Desa Blang Meurandeh

Hilang

56

Ali Ben

24

Desa Blang Meurandeh

Gn Singgah Mata

57

Tgk Baharuddin

57

Darul makmur

Saat mengungsi

Daftar Rumah Yang Dibakar :

No

Pemilik

Desa

Kondisi Bangunan

Keterangan

1.

Muhammad Yacob (30)

Blang Meurandeh, Aceh Barat

Rumah papan sederhana

Dibakar TNI

2.

Hasan Badoh (40)

Blang Puuk, Aceh Barat

Rumah papan sederhana

Dibakar TNI

3.

Ibnu Hasan (32)

Blang Puuk, Aceh Barat

Rumah papan sederhana

Dibakar TNI

 

TRAGEDI SIMPANG KKA, DEWANTARA ACEH UTARA (3 Mei 1999)

 

  • Pola kejadian: Pembantaian sipil.
  • Hari / Tanggal: Senin (3 Mei 1999)
  • Pukul: 12.30 WIB
  • Tempat: Simpang KKA Krueng Geukueh, Kec. Dewantara, Aceh Utara
  • Pelaku: Aparat dari satuan Den Rudal 001 dan Yonif 113 Aceh Utara.
  • Saksi mata: masyarakat Simpang KKA Dewantara Aceh Utara
  • Kronologis:

A. Pra kejadian
        1. Jumat malam, 30 April 1999
            Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1
            Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan               oleh masyarakat Islam di manapun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satupun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.

  1. Sabtu malam, 1 Mei 1999
  2. Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar dikawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tidak terjadi apa-apa.

  3. Minggu pagi, 2 Mei 1999

Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan peringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abrar, Cot Murong.

Pada saaat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tentangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

4. Minggu malam, 2 Mei 1999.

Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dinihari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.

5. Senin pagi, 3 mei 1999.

Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tentangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api). Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat berkeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka. Negosiasi itu beralangsung cukup lama. Waktu sudaah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.

Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari kearah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.

  1. Saat Kejadian.
  2. Pukul 12.30 WIB.

    Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.

    Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

    Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

    Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta.

  3. Pasca Kejadian
  1. Data korban tewas
  2. N0

    NAMA/UMUR

    ALAMAT

    KETERANGAN

    1

    A. Majid Umar (54)

    Kec. Sawang

    Meninggal,

    Luka tembak

    2

    Zainal Abidin (35)

    Warga Desa Paya Dua, Kec Nisam

    Menimnggal,

    Luka tembak

    3

    Jamaluddin (35)

    Warga Geudong Ringet,Seumirah, Kec.Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak, dibawa pulang ke rumah

     

    4

    Jufri Jamal (35)

    Warga Nisam

    Meninggal di Tempat Kejadian Perkara

    5

    Kamaruddin Yahya(42)

    Warga Paloh Lada, Sp. KKA

    Meninggal,

    Luka tembak

    6

    Khalid Syam (50)

    Warga Reuleut Timur,

    Kec. Dewantara

    Meninggal,

    di bawa pulang ke rumah

    7

    Henri Rusli (15)

    Warga Desa Paya Gaboh, Kec.Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    8

    M.Ali (40)

    Warga Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    9

    Wardani (17)

    Warga Desa PalohLada,

    Sp. KKA,

    Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    10

    Razali Hanafiah (35)

    Warga Desa Babah Buloh, Kec. Sawang

    Meninggal,

    Luka tembak

    11

    M. Thalib Syam (42)

    Warga Desa Reuleut Timur, Kec Deawantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    12

    Ramli Bakri (40)

    Warga Desa Lhok Drien Seumirah, Kec.Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    13

    Saddam Husein (7)

    Warga Keude Blang Krueng Geukuh

    Meninggal,

    luka tembak di kepala

    14

    Sudirman (12)

    Warga Desa Sp. KKA Krueng Geukuh, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    mengalami luka tembak menembus sampai ke bokong

    15

    M. Nasir T.Buket (35)

    Warga Desa Paloh Lada, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    16

    Hasanuddin A.Gani (35)

    Warga Desa Seumirah,

    Kec. Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    17

    Muklis Muslim (18)

    Warga Desa Paya Dua, Kec. Nisam

    (Siswa SMU PGRI Krueng Geukuh)

    Meninggal,

    Luka tembak

    18

    Yuslina (18)

    Warga Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    19

    Syukur Nurdin (14)

    Warga Desa Cot Geureundeng, Kec. Jeumpa Bireuen

    Meninggal,

    Dan langsung di bawa pulang ke rumah keluarga

    20

    Umar Amin (25)

    Warga Patok 7 Alue Seugo Weng,

    Kuta Makmur

    Meninggal,

    Luka tembak

    21

    Mahmuddin (60)

    Warga Desa Paloh Lada Sp. PT KKA,

    Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    22

    Zakaria ZA (45)

    Warga Desa Seumirah,

    Kota Makmur,

    Kec. Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    23

    Ramli Muhammad (47)

    Warga Desa Lhok Drien, Kec. Sawang

    Meninggal,

    Luka tembak

    24

    Nurmalis (12)

    Warga Desa Ulee Reuleung, Kec. Deawantara

    Meninggal,

    Dan langsung di bawa pulang ke rumah

    25

    Hasanul (20)

    Warga Desa Alue Seumirah, Kec. Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    26

    Abdulmajid Isman (45)

    Warga Desa Paya Dua, Kec. Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    27

    Husaini Daud (25)

    Warga Desa Lr. Mesjid Krueng Geukueh,

    Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    28

    Abdul Muthalib (50)

    Warga Desa Reuleut Timur, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    29

    Sudirman (25)

    Warga Desa Balai Setui, Kec. Peusangan

    Meninggal,

    Luka tembak

    30

    Muzakir Usman (25)

    Warga Desa Bukla Tebai, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    31

    M.Jamil (14)

    Warga Desa Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    32

    Razali (20)

    Warga Desa Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    33

    Nurdin Sabil (18)

    Warga Desa Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak

    34

    Murdani Ben Jafar (18)

    Warga Desa Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Meningggal,

    Terkena peluru dipaha kiri kanan tembus

    35

    Murtala Ben Cut (42)

    Warga Desa Seumirah, Kec. Nisam

    Meninggal,

    Luka tembak

    36

    Nurmaliah (32)

    Warga Desa Keude Krueng Geukueh, Kec Dewantara

    Meninggal di RSU Lhokseumawe dalam perawataan akibat luka tembak (Selasa,4/5/99)

    37

    Razali Abbas (17)

    Warga Desa Meunasah Pulo, Kec. Sawang

    Meninggal

    38

    Jamal (?)

    Warga Desa Paya Dua, Kec. Nisam

    Meninggal

    39

    Mulyadi (25)

    Warga Desa Alue Kerinyai Geulumpang Sulu Barat Cot Murong Kec. Dewantara

    Meninggal,

    Luka tembak di punggung menembus ke dada depan

    40

    Muhammad Ben (41)

    Warga Kec. Nisam

    Aceh Utara

    Meninggal,

    Luka tembak

    41

    Yuni Arsita (15)

    Warga Dusun Keude Blang, Desa Lancang Barat Kec. Dewantara Aceh Utara

    Meninggal di RSU Zainal Abidin BNA dalam perawatan setelah menjalani operasi beberapa setelah kejadian (Minggu, 9/5/99)

    42

    Yusni Daud (17)

    Warga Desa Alue Beu Mesjid

    Meninggal,

    Di tembus peluru tajam

    43

    M.Nasir Syahid (?)

    Warga Desa Tambon Tunong

    Meninggal

    44

    Khairuddin (25)

    Warga Desa Reuleut Timur, Kec. Dewantara Aceh Utara

    Meninggal,

    Luka tembak

    45

    Nurdin (18)

    Lancang Barat,

    Kecamatan Denwantara Aceh Utara

    Meninggal,

    Luka tembak

    46

    Syukur Nurdin (14)

    Cot Geureundong, Kecamatan Jeumpa Aceh Utara

    -

  3. Data Korban luka-luka
  4. N0

    NAMA/UMUR

    JENIS KELAMIN

    ALAMAT

    KETERANGAN

    1

    Mulyadi (13 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa lancang Barat Krueng Geukueh Kec Dewantara

    Luka tembak dibetis

     

    2

    Fakri M.Yusuf (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa lancang Barat Krueng Geukueh Kec

    Dewantara

    Luka tembak dibetis

    3

    Dhaini (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa lancang Barat Krueng Geukueh Kec Dewantara

    Luka tembak dibetis

    4

    Yusnawati

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Keude Blang Lancang Barat Kec. Dewantara

    Luka tembak dibetis

    5

    Ridwan Abdullah (22 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak diatas tumit dan dihantam dengan popor senjata dibagian muka

    6

    Hasan Basri (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat Kec Dewantara

    Luka terserempet peluru dibagian kepala

    7

    Riwan (18 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Keude Blang Lancang Barat Kec. Dewantara

    Tulang paha kiri retak dan mengalami luka dalam.

    8

    Erlinawati (21 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    9

    Yusrizal (12 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bungkah Muara Batu Lancang Barat Kec Dewantara

    Luka tembak dibahu bagian belakang

    10

    Muzakkir A Thaleb (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bluka Teubai

    Kec Dewantara

    Luka tembak

     

    11

    Umar (15 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak dikaki

    12

    Yusnita (16 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    13

    Armansyah (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    14

    Murdani M (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bangka Jaya Lancang Barat Kec Dewantara

    Luka tembak

    15

    Safrizal (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    16

    Syahrubat (56 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    17

    M Ali (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    18

    Hasan Hamid (33 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    19

    Yusmaini

    Perempuan

     

    Warga Desa Lancang Barat

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    20

    Zaini (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Tambon Tunong Lancang Barat Kec Dewantara

     

    Luka tembak dibagian punggung

    21

    Nurmaliah (32 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Lancang Barat Krueng Geukuh

    Kec Dewantara

    Luka tembak disamping punggung rusuk kiri

    22

    Nurdin (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Keude Blang Lancang Barat Kec Dewantara

    Luka tembak

    23

    Ernawati (21 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Lancang Barat Krueng Geukuh

    Kec Dewantara

    Luka tembak dipangkal paha tembus

    24

    M Nur Syah (24 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat Krueng Geukuh

    Kec Dewantara

    Luka tembak

     

     

    25

    Zainuddin (21 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat Krueng Geukuh

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    26

    M Diah Yasin (28 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Garam Kec Banda Sakti

    Luka tembak

    27

    Sofyan (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Alue Garot

    Kec. Dewantara

    Luka tembak

    28

    Halimah (16 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Alue Reuleung

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    29

    Yusmani (26 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Alue Reuleung

    Kec Dewantara

    Luka tembak ditangan kiri

    30

    Hariana (14 tahun)

    Perempuan

     

    Warga Desa Alue Reuleung

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    31

    Abdullah Abubakar (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang Ardhat Mesjid Cunda

    Luka tembak dibagian paha dan kaki

    32

    Habsah (40 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Ulee Maden Bungkah Muara Batu Lancang Barat Kec Dewantara

    Luka tembak

     

     

     

     

    33

    Saridin (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Balee Gajah

    Kec Nisam

    Luka tembak

    34

    Samsul Bahri (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bluka Teubai Kec Dewantara

    Luka tembak ditangan kiri

    35

    Abdurrahman (75 tahun )

    Laki-laki

    Warga Desa Alue Papeun

    Luka tembak

    36

    Sukardi (65 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Blang Aman Cot Girek Lhok Seukon

    Luka tembak

    37

    Saifuddin Abubakar (16 thn)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Gle Leubu

    Luka tembak dilutut kiri

    38

    Sofyan (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Baro

    Luka tembak

    39

    Hanafiah (54 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Baro

    Luka tembak

     

    40

    M Amin (45 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Trieng Lhoksukon

    Luka tembak

    41

    Muammar Abdullah

    Laki-laki

    Warga Desa Krueng Seunong Kuta Makmur

    Luka tembak

    42

    Fadhli Nur (20 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Jalan Peusangan

    Luka tembak

    43

    M Thaleb (63 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Paya Punteuet

    Luka tembak

    44

    Yusmalini (13 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Keude Blang Lancang Barat Kec. Dewantara

    Luka tembak dipelipis bagian kanan

    45

    Ramlah (60 tahun)

    Perempuan

     

    Warga Desa Uteun Geulinggang

    Luka tembak dibagian punggung kanan

    46

    Yusri Mahmud (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Teupin Reudeuep Kec. Sawang

    Luka tembak dibagian kepala

    47

    Zulfadhli (18 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah Kec. Nisam

    Luka tembak dibagian punggung dan serpihan peluru dibetis kiri serta paha

    48

    Rahmi (17 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Ulee Pulo

    Luka tembak dipergelangan kaki

    49

    Nurlatifah (37 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Tanjong Haji, Matang Kuli

     

    Luka tembak dibetis dan lutut

    50

    Abdullah Sulaiman (20 thn)

    Laki-laki

    Warga Desa Alue Sagoweng

    Luka tembak dipaha

    51

    Asriani (21 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Blang Pulo Ulee Reuleung

    Kec. Dewantara

    Luka tembak

     

     

    52

    Alamsyah (18 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Gampong Teungoh

    Kec. Sawang

    Luka tembak

    53

    Hasan Azhari (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang Rambong Seumirah Kec.Nisam

    Luka tembak dibetis dan lutut

    54

    Safwan A Gani (42 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Alue Ie Mudek,

    Kec. Sawang

    Luka tembak dipaha

    55

    M Syukur Nurdin (13 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Cot Geureundong Bireuen

    Luka tembak

    56

    Muhtar (40 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Langcang Jaya Kec.Dewantara

    Luka tembak dileher

    57

    M Hidayatullah (13 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bangka Jaya Krueng Geukuh, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    58

    Muslim (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah Kec.Nisam

    Luka tembak dileher

    59

    Bailawi (26 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Uteuen Reutoh, Kec. Jeumpa Birueun

    Luka tembak

    60

    Haiyuddin (30 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang KKA,

    Kec.Dewantara

    Luka tembak dilambung kanan

    61

    Murtala (28 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Paloh Lada, Kec. Dewantara

    Dianiaya sampai luka dalam

    62

    Muhadir (27 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Uteun Geulinggang

    Luka tembak

    63

    Samsul Bahri (12 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bangka Jaya, Kerc. Dewantara

    Luka tembak ditumit kanan

    64

    Sulaiman Nazali (21 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Kambang Bungkah

    Luka tembak dipinggang

    65

    Ibnu Abbas (29 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Paloh Raya Muarabatu, Kec.Dewantara

    Bocor kepala karena hantaman popor senjata

    66

    Jamaluddin (18 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bungkah Muarabatu, Kec.Dewantara

    Luka tembak dipaha kiri

    67

    Rosyidi (22 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Nyie, Kec.Nisam

    Luka tembak

     

    68

    Zainuddin (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Tambon Tunong, Krueng Geukuh, Kec. Dewantara

    Luka tembak dibahu kanan

    69

    M Yusuf (?)

    Laki-laki

    Warga Kecamatan Nisam

    Luka tembak dibetis

    70

    Helmi (14 tahun)

    Laki-laki

    Warga Kecamatan Nisam

    Luka tembak dipingggang bagian belakang

    71

    Razali (21 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah,

    Kec. Nisam

    Luka tembak ditangan

    72

    Syamsuddin (16 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Reuleut Barat, Kec. Dewantara

    Luka tembak dipunggung

    73

    Mulyadi (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Sulu Barat,

    Kec. Dewantara

    Luka tembak

    74

    Syarifah (40 tahun)

    Perempuan

    Warga Kecamatan Nisam

    Luka tembak

    75

    Safari Muhammad (36 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Pulo

    Luka tembak dipaha kiri

    76

    M Nur Gade Johan (29 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Pulo Bireuen

    Luka tembak

    77

    Razali (21 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah,

    Kec. Nisam

    Luka tembak

    78

    Sudirman (20 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Kambam Muarabatu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    79

    A Azis (28 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Pusong

    Luka tembak

    80

    Muhammad (29 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah,

    Kec. Nisam

    Luka tembak

    81

    Samsul Bahri (40 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Batuphat,

    Kec. Dewantara

    Luka tembak

     

    82

    Ilyas (30 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah, Kec. Nisam

    Luka tembak

     

    83

    Iskandar (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bungkah

    Luka tembak

    84

    Yusuf Usman (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Bangka Jaya, Kec. Dewantara

    Luka tembak

     

    85

    Yusmardi (22 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bangka Jaya, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    86

    Alamsyah (?)

    Laki-laki

    Warga Pesantren Cot Murong

    Luka tembak

    87

    Rusdi Ibrahim (36 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lhok Drien Seumirah, Kec.Nisam

    Luka tembak dibahu kiri

    88

    Halimah (19 tahun)

    Perempuan

     

    Warga Desa Ulee Reuleut,

    Kec. Dewantara

    Luka tembak

    89

    Azhari (30 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Krueng Geukuh Kec. Dewantara

    Luka tembak

    90

    Agusran (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Krueng Geukuh, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    91

    Albar bin Yasin (20 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Punteut Muaradua

    Luka tembak

    92

    Adi Puteh (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Tutue

    Luka tembak

    93

    Adib Kasem (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Tutue

    Luka tembak

    94

    Yusuf Raja (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    95

    Rabi’ah Abu (40 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    96

    Maimunah (43 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    97

    Boyhaqi (11 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

     

     

    98

    Zainabon (17 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    99

    Supriyadi (13 tahun)

    Laki-laki

    -

    Luka tembak

    100

    Erlina (17 tahun)

    Perempuan

    -

    Luka tembak

    101

    Ismail Fuadi (17 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

     

     

    102

    Irwan (17 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Glumpang Sulu Timu, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    103

    Muhadir Yacob (15 tahun)

    Laki-laki

    -

    Luka tembak

    104

    Abdullah (60 tahun)

    Laki-laki

    -

    Luka tembak

    105

    Zaini Rauf (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Tutue

    Luka tembak

    106

    Irwansyah (22 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Ulee Tutue

    Luka tembak

    107

    M Yusuf Hasan (28 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang Rambong, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    108

    Zubir (28 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang Rambong, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    109

    Jamali (27 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Rembang Panyang

    Geger otak

    110

    Fachrizal (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Krueng Geukuh,Kec.

    Dewantara

    Luka tembak dikaki kiri dan kanan

    111

    Ramlah (65 tahun)

    Perempuan

     

    Warga Desa Tambon Tunong, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    112

    M Hasan (30 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    113

    Zulkifli (33 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Paloh Lada, Kec.Dewantara

    Luka tembak

     

    114

    Jakfar (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Tambon Tunong, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    115

    Husen (23 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bungkah Muaradua

    Luka tembak

    119

    Sukri (18 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Reuleut Barat Muarabatu

    Luka tembak

     

    120

    Zulkifli (33 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Tumpok Teungoh, Kec.Banda Sakti

    Luka tembak

    121

    Muryati (40 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Bungkah Muarabatu

    Luka tembak

    122

    Andib (45 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Kreung Geukuh Kec. Dewantara

    Luka tembak

     

     

    123

    Abdullah (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Meunasah Mesjid Muaradua

    Luka tembak

    124

    Rusiadi (22 tahun)

    Laki-laki

    Warga Krueng Geuekuh

    Luka tembak

    125

    Hasanah (29 tahun)

    Perempuan

     

     

    Warga Desa Tambon Tunonh, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    126

    Hasanur (?)

    Perempuan

     

    Warga Desa Tambon Tunonh, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    127

    Syarifuddin (15 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Tambon Tunonh, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    128

    Umar (36 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Buloh Kutamakmur

    Luka tembak

    129

    Burhanuddin (24 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Tambon Tunonh, Kec. Dewantara

    Luka tembak

     

    130

    Nasruddin (24 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Paloh Lada, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    131

    Azura (35 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Krueng Geuekuh, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    132

    Syarwani (9 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Blukat Teubai

    Luka tembak

    133

    Dedek (?)

    Perempuan

     

    Warga Desa Alue Sagoeng, Kutamakmur

    Luka tembak

    134

    M. Yusuf (31 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang KKA, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    135

    Ajran (35 tahun)

    Laki-laki

    -

    Luka tembak

    136

    Yusnidar (19 tahun)

    Perempuan

     

    Warga Desa Bangka Jaya Kec. Dewantara

    Luka tembak

    137

    Abdullah (22 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Buloh Blang Ara, Kutamakmur

    Luka tembak

     

    138

    Yusuf Usman (?)

    Laki-laki

    -

    Luka tembak

    139

    Sudirman M (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat Krueng Geukuh

    Kec Dewantara

    Luka tembak

    140

    Fuddin (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang KKA, Kec. Dewantara

    Luka tembak

    141

    Burhanuddin (24 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Paloh Muaradua, Kec.Dewantara

    Luka tembak

     

    142

    Marzuki M Amin (45 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Krueng Geukuh, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    143

    Helmi (10 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Pulo Teungoh Leubeu Makmur

    Luka tembak

    144

    Husaini (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    145

    Jafaruddin (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Seumirah, Kec.Nisam

    Luka tembak

    146

    Baharuddin Y (16 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa paloh Muaradua, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    147

    Abdullah Sulaiman (9 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Alue Sagoweng Kutamakmur

    Luka tembak

    148

    Umar (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Alue Sagoweng Kutamakmur

    Luka tembak

    149

    Azhar (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Simpang Rambong, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    150

    Azhar (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Paya Dua, Kec.Nisam

    Luka tembak

    151

    Muslim (25 tahun)

    Laki-laki

    Warga Desa Bangka Jaya, Kec.Dewantara

    Luka tembak

    152

    M Syukur (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Jumpa Bireuen

    Luka tembak

    153

    Ernawati (?)

    Perempuan

     

    Warga Desa Lancang Garam, Kec.Banda Sakti

    Luka tembak

    154

    Leilamy (26 tahun)

    Perempuan

    Warga Desa Jumpa Bireuen

    Luka tembak

    155

    Yusmani (22 tahun)

    Perempuan

     

    Warga Desa Ulee Reuleung,

    Kec. Dewantara

    Luka tembak

    156

    Zami (?)

    Laki-laki

    Warga Desa Lancang Barat, Kec. Dewantara

    Luka tembak

  5. Data Korban hilang

N0

NAMA

UMUR

ALAMAT

1

Sofyan Nurdin

17 tahun

Ulee Tutong, Lancang Barat

Kec. Dewantara

2

Mahendra Husni Basyah

35 tahun

Cunda

Kec. Muara Dua

3

Saiful Bahri

15 tahun

Paloh Mambu Kecamatan nisam

4

Razali Ismail

?

Lancang Barat Kecamatan Dewantara

5

Herry

19 tahun

Paya Laboh

6

Marzuki

27 tahun

Pulo Rungkom

7

Umar Razali

18 tahun

Tambon Tunong

Kec. Dewantara

8

Muzakkir alias Si Pon

?

Paloh Mambo

9

Ranto

45 tahun

Pusong

Kec Krueng Geukueh

10

Israyuddin Yusuf

28 tahun

Utueun Geulinggang


Djon Afriandi